
JEMBRANA | Di tengah arus globalisasi yang kian kencang, eksistensi jati diri Bali yang berakar pada adat dan tradisi menjadi benteng pertahanan utama bagi masyarakat. Hal ini ditegaskan secara mendalam oleh Ketua Umum Puri Andul Jembrana, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau yang akrab disapa Agung Gempa, saat ditemui di Puri Andul Mendoyo Dangin Tukad pada Jumat, 9 Januari 2026. Dalam penyampaiannya, Agung Gempa memberikan penegasan krusial bahwa sejarah Puri Andul dan keterkaitannya dengan Kerajaan Berangbang merupakan akar sejarah hulu bagi Kabupaten Jembrana, Bali, yang harus dipahami secara mendalam oleh seluruh generasi sebagai pondasi identitas daerah yang sangat bernilai.
Agung Gempa menjelaskan bahwa memahami Puri Andul adalah kunci untuk menghormati asal-usul tanah Jembrana secara utuh. Sebagai bukti autentik dari sejarah hulu tersebut, Kori Tua Puri Andul yang dibangun sejak tahun 1680 tetap berdiri kokoh sebagai situs cagar budaya yang dilindungi. Tidak hanya terpaku pada pelestarian Kori Tua, Agung Gempa secara nyata juga telah melakukan penataan menyeluruh di Pura Pemerajan Agung Puri Andul yang berlokasi di Desa Batuagung, Jembrana. Langkah restorasi ini mencakup rehabilitasi bangunan Papelik dan berbagai Pelinggih guna menjaga kesucian serta kemegahan tempat pemujaan leluhur agar tetap lestari dan representatif di masa depan.
Kekuatan sejarah Puri Andul juga tercermin dari keberadaan benda pusaka suci berupa Keris Ki Kebo Dongol dan Tombak Ki Dukuh Sakti yang kini tersimpan di Saren Lid Kertha. Pusaka bersejarah ini memiliki nilai magis dan historis yang tinggi karena ditemukan kembali dalam peti batu pada tahun 1969 setelah terpendam selama kurang lebih 289 tahun sejak peristiwa bencana Kerajaan Berangbang tahun 1680. Agung Gempa menekankan bahwa pusaka ini bukan sekadar benda peninggalan, melainkan simbol perlindungan, sarana pengobatan bagi masyarakat, serta perlambang kesejahteraan masyarakat pada masanya yang nilai-nilainya tetap diwariskan dan dimaknai hingga saat ini.
Dalam upaya memperkuat sarana prasarana dan pelestarian adat, Agung Gempa Mohon Bantuan Pemerintah Provinsi Bali, Gubernur Bali Wayan Koster senilai hampir 1 miliar rupiah. Bantuan ini dialokasikan secara strategis untuk pengadaan sarana Gong serta rehabilitasi enam Saren Pengempon Pura Pemerajan Agung Puri Andul Jembrana, Pratisentana Shri Nararya Khresna Kepakisan (PSNKK). Keenam saren tersebut memiliki peran vital yang tersebar di beberapa wilayah, yakni Saren Anon Bakisan di Banjar Tengah Desa Mendoyo Dangin Tukad, Saren Punggawa di Banjar Baler Bale Agung Desa Mendoyo Dangin Tukad, Saren Mangku di Banjar Kebebeng Desa Mendoyo Dangin Tukad, Saren Lid Kertha di Kelurahan Tegalcangkring, Saren Sedaan di Banjar Tengah Mendoyo Dangin Tukad, dan Saren Kompyang di Banjar Kebebeng Mendoyo. Melalui dukungan ini, diharapkan semangat gotong royong dan ikatan persaudaraan tetap solid dalam menjaga warisan leluhur, termasuk dalam pelaksanaan upacara Yadnya utama seperti Pelebon Agung dan Atma Wedana atau Baligya bagi Raja Berangbang III dan IV sebagai sarana edukasi bagi para Yowana.
Untuk menguatkan kreativitas dan peran generasi muda di era modern, sarana Gong yang telah diterima dari Gubernur Bali Wayan Koster kini telah dioptimalkan untuk mendukung aktivitas seni Sekhaa Gong Istri, Sekhaa Gong Lanang, hingga Sekhaa Teruna. Menariknya, pemanfaatan sarana Gong ini tidak hanya terbatas untuk internal puri, namun juga dimanfaatkan secara luas untuk kepentingan lintas desa sebagai wujud pengabdian dan kontribusi nyata Puri kepada masyarakat Jembrana dalam memperkuat seni budaya Bali.
Menutup narasinya, Agung Gempa mengajak seluruh semeton yang berjumlah kurang lebih 4.000 jiwa untuk senantiasa bersatu dan memanfaatkan teknologi digital guna mempererat komunikasi serta mendigitalisasi Babad Puri agar sejarah hulu ini tetap abadi. Seluruh langkah nyata ini merupakan komitmen penuh Puri Andul dalam mengawal suksesnya visi Nangun Satkerthi Loka Bali dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera, harmonis, serta tetap teguh menjaga agama, adat, dan budaya Bali yang adiluhung.

